Guru dalam Renungan

Standar

Saya sangat tertarik dengan dua buah buku yang mengupas tentang Guru, yang sebagian isinya saya kutip dalam tulisan di bawah ini.

Guru adalah profesi tertua, setua usia peradaban manusia, tempat bergantungnya kelangsungan peradaban umat. Wajah generasi masa depan sangatlah ditentukan oleh bagaimana guru mendidik murid-muridnya. Guru dan persoalannya. Sebagai bagian dari manusia normal, guru tidak akan lepas dari persoalan-persoalan hidup yang akan ikut serta mewarnai kepribadiannya.

Seorang guru yang pengalaman masa kecilnya sampai kepada masa bertugas sebagai guru kurang menyenangkan akan berpengaruh terhadap sikap dan caranya mengahdapi anak didiknya. Misalnya pada masa kecilnya dulu banyak mendapat tekanan perasaan dan perlakuan keras dari orang tua atau keluarga, diperlakukan tidak adil (baca pilih kasih) dan kurang mendapat perhatian, sehingga dendam dan anti pati terhadap orang tuanya yang telah lama terpendam itu, mungkin akan menemukan sasarannya pada anak didik yang masih kecil atau lebih muda, seolah-olah ia menumpahkan rasa dendamnya melalui anak didik. Sikap dan tindakannya itu akan terlihat dalam kekerasan hukuman, peraturan keras, pembatasan, pemberian tugas terlalu banyak (baca saudele dewe), pemberian soal yang terlalu sulit dan nilai yang terlalu rendah.

Guru yang mengajar karena panggilan jiwanya, ada misi untuk mengantarkan anak didiknya kepada kehidupan yang lebih baik secara intelektual dan sosial, sehingga ia akan bisa menyalurkan energi kecerdasan, kemanusiaan, kemuliaan dan keislaman yang besar dalam dalam dada setiap muridnya. Guru yang mengajar dengan mental seorang pendakwah sekaligus pengasuh – bukan dengan mental tukang teriak untuk mendapat upah bulanan bernama honor atau sejenisnya dan atau karena harapannya untuk menjadi PNS – akan mampu menyediakan cadangan energi agar tetap lembut menghadapi murid-muridnya yang sering bikin “kening berkerut”.

Guru yang mengajar hanyalah untuk mencari nafkah, maka profesinya sebagai guru hanyalah akan dinilai dari segi materi. Ia akan mengalami kegoncangan apabila merasa bahwa beban kerja yang dipikulnya tidak seimbang dengan hasil yang diperolehnya. Tindakan dan sikapnya terhadap anak didiknyapun ikut terkontaminasi, yang berakibat dapat merusak atau mengurangi hasil pendidikannya.

Untuk dapat bersungguh-sungguh mengajar, bagi guru, yang paling menentukan bukanlah gaji, meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar, memang dapat mengganggu ketenangan dan totalitas mengajar. Sebaliknya bertambahnya gaji yang tidak diiringi oleh komitmen pengabdian sebagai guru tidak menjamin seorang guru akan mengajar dengan totalitas.
Guru yang ideal Walaupun sebagai guru dengan penghasilan yang bikin terharu, tetapi genggamlah cita-cita besar yang mengharu biru.

Saya ingin mengajak anda (baca para guru) untuk dapat menikmati hari-harinya mengajar di depan murid-murid dan menghantarkan anak-anak bangsa agar kelak mengerti tujuan hidupnya.

1. Berinteraksilah dengan Cinta

Guru yang baik adalah guru yang melandaskan interaksinya diatas nilai-nilai cinta.
Hubungan yang dilandasi dengan cinta (kasih sayang) akan melahirkan keharmonisan. Sikap cinta dan kasih sayang akan tercermin melalui kelembutan,kesabaran, penerimaan, kedekatan, keakraban, serta sifat positif lainnya. Sosok guru harus senantiasa memperlihatkan sifat sayang kepada siswa setiap saat, baik di dalam maupun di luar sekolah. Tebaran kasih sayang ini akan ditangkap siswa sebagai “Kharisma” . Guru yang kharismatik akan menjadi idola dan menempatkannya sebagai sosok yang “berwibawa”. Respons balik siswa lebih lanjut akan diwujudkan melalui sikap-sikap positif seperti kepatuhan, motivasi belajar, cinta terhadap tugas, penghormatan dan selalu ingin menghargai gurunya. Sikap-sikap seperti ini akan menimbulkan dampak positif terhadap perkembangan siswa. Siswa akan merasakan belajar sebagai kebutuhan dan keasyikan serta keinginan untuk berprestasi.

Namun guru yang pemarah atau keras, akan menimbulkan rasa takut pada diri siswa yang dapat menimbulkan kebencian. Apabila siswa takut kepada guru, maka ia tidak akan berhasil mendapatkan aliran kecerdasan dari guru tersebut.

Jadilah guru yang dirindu kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati, kepergiannya ditangisi. Bukan jadi guru yang ketika tidak hadir disambut lompatan kegirangan dan teriakan “ M-E-R-D-E-K-A”

2. Ojo Kemlithak

Anda jangan beranggapan, bahwa pendidikan tinggi yang anda miliki adalah sebuah jaminan keberhasilan dalam mendidik. Sikap guru yang terlalu yakin (terlalu PeDe Gitu lho) dengan kemampuannya sehingga mengabaikan peran Alloh, akan kehilangan kekuatan jiwa tatkala menghadapi masalah. Padahal dalam dunia guru (baca pendidikan) masalah sangatlah super banyak. Karena yang dihadapi guru adalah anak manusia – seperti anda dulu ketia menjadi murid – yang penuh misteri dan hanyalah menjadi rahasia “Sang Kholiq”
–Do`a guru sangat berperan disini- Sikap terlalu PeDe (baca kemlithak) akan rentan terhadap keputus asaan, apabila apa yang ditargetkan mengalami kegagalan, padahal keputus asaan berpotensi membawa guru bersikap keras hati dan kasar terhadap siswa.
Sikap kasar ini akan berakibat guru tidak kharismatik dan tidak bisa tampil sebagai figure yang sejuk, sehingga kewibawaannya akan sirna. Kata-katanya tidak lagi punya bobot berarti untuk mempengaruhi jiwa siswa. Dari sinilah awal kegagalan dimulai.

3. Kendalikan Emosi

Ketika anda punya persoalan internal di rumah, jangan dibawa ke sekolah, jika persoalan internal anda di bawa ke dalam kelas, maka akan mengimbas ke sekolah. Anda akan mudah marah-marah kepada siswa – bahkan teman sejawat sok ikut-ikutan jadi sasaran kemelut – tanpa alasan yang jelas,sehingga interaksi pembelajaran tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

4. Jadilah Sosok Pemaaf

Perilaku yang mengesalkan adalah santapan sehari-hari bagi guru. Kondisi ini, bagi guru yang tidak berada dalam kondisi prima, dan tidak menyadari akan pentingnya hubungan baik dengan murid dalam proses pendidikan, akan sangat mudah menghanyutkan diri pada situasi emosional yang negative. Klaim-klaim negative terhadap siswa sering terlontar. Misalnya “ dasar kamu ini anak bandel, tak tahu diri, bodoh dan lain sebagainya”. Klaim-klaim negative tersebut akan membuat sekat antara guru dan siswa, yang tentunya akan merusak proses pembelajaran. Akibatnya ? “Bayangkan saja sendiri” Untuk menghindari hal tersebut, guru harus menjadi sosok pemaaf.

5. Memiliki Kepribadian yang Menarik

Guru adalah tauladan dalam pertumbuhan kepribadian siswa, kalau akhlaq guru tidak baik, akhlaq anak akan rusak, atau paling tidak anak akan mengalami kegelisahan, cemas atau terganggu jiwanya, karena ia menemukan contoh yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini diterima dari orang tuanya.
Cara guru berpakaian, berbicara, berjalan dan bergaul merupakan bagian kepribadian – guru yang tak pernah lepas dari kamera murid-muridnya -, yang mempunyai pengaruh terhadap anak didik. Maka hindari pakaian yang kurang sopan, bicara kotor dan pergaulan yang tidak benar.

“Ingat guru kencing berdiri, murid kencing berlari, guru kencing berlari, murid akan mengencingi gurunya” Jebule dadi guru memang tidak ringan. Tapi, perlu disadari, bahwa Misi mulia yang dibawa seorang guru akan mengantarkannya pada derajat yang mulia, sekalipun seisi dunia ini tidak memuliakannya, tapi enjoy aja, karena kemuliaan dimata manusia tidak sebanding dengan penghargaan dari Alloh SWT. Semoga Alloh senantiasa membimbing kita semua. Amiin.

Buku Sumber :
1. Spiritual Teaching ; Abdullah Munir, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta 2006
2. Kepribadian Guru : Dr. Zakiah Daradjat, , Bulan Bintang, Jakarta 1980

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s